LAMPUNG TIMUR,FOKUSFAKTA.COM — Ketua Ikam Jabung Sai, Zainal Abie, menyoroti stigma “daerah begal” yang kerap dilekatkan kepada Jabung. Ia menegaskan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh individu tidak boleh dijadikan dasar untuk menghakimi seluruh masyarakat, terlebih menggeneralisasi suatu daerah maupun suku tertentu.
Menurut Zainal, munculnya stigma tersebut memang harus menjadi bahan introspeksi. Namun, persoalan yang jauh lebih penting adalah mempertanyakan sejauh mana pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan telah membangun sistem pencegahan kejahatan yang serius, terstruktur dan berkelanjutan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Generalisasi tentang begal tentu tidak muncul begitu saja. Tetapi jangan berhenti pada stigma. Pertanyaan besarnya adalah, sudah sejauh mana pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, kepolisian, TNI, BNN, akademisi hingga pemerintah pusat hadir bersama membangun pencegahan yang benar-benar menyentuh akar persoalan?” kata Zainal Abie.
Ia menegaskan, masyarakat Jabung tidak menolak kritik dan tidak pernah membenarkan tindak kriminal. Siapa pun yang terbukti melakukan kejahatan harus diproses dan ditindak tegas berdasarkan hukum.
Namun, menurutnya, menghukum pelaku kejahatan sangat berbeda dengan memberikan cap buruk kepada seluruh masyarakat.
“Kalau ada orang melakukan kejahatan, tangkap dan proses sesuai hukum. Kami mendukung penegakan hukum yang tegas. Tetapi jangan karena perbuatan segelintir orang, satu daerah dan masyarakatnya ikut menerima hukuman sosial berupa stigma. Kejahatan adalah perbuatan individu, bukan identitas masyarakat Jabung,” tegasnya.
## Jangan Hanya Hadir Setelah Kejahatan Terjadi
Zainal menilai penanganan kriminalitas tidak boleh hanya berorientasi pada penindakan setelah tindak pidana terjadi. Negara dan pemerintah juga mempunyai peran penting dalam membangun pencegahan dari hulu.
Menurutnya, jika persoalan yang sama terus berulang dari tahun ke tahun, maka sudah waktunya seluruh pihak mengevaluasi efektivitas pola pencegahan yang selama ini dijalankan.
“Jangan hanya bertanya berapa pelaku yang sudah ditangkap. Kita juga harus berani bertanya, berapa banyak anak muda yang berhasil kita cegah agar tidak masuk ke lingkungan kriminalitas dan narkoba? Berapa program pembinaan yang berjalan secara konsisten? Berapa lapangan usaha dan kegiatan produktif yang benar-benar menyentuh masyarakat?” ujarnya.
Ia menilai berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah maupun aparat. Namun, program pencegahan harus diperkuat agar tidak sekadar bersifat seremonial atau muncul ketika persoalan kriminalitas sedang ramai diperbincangkan.
“Pencegahan tidak boleh musiman. Jangan menunggu ada kejadian, ramai di media, kemudian semua bergerak. Setelah situasi mereda, program ikut menghilang. Yang dibutuhkan masyarakat adalah kerja nyata yang terstruktur dan berkesinambungan,” katanya.
## Perangi Narkoba dan Perkuat Generasi Muda
Zainal juga meminta persoalan penyalahgunaan narkoba mendapat perhatian serius karena dapat berkaitan dengan berbagai persoalan sosial dan kriminalitas.
Karena itu, ia mendorong BNN, pemerintah daerah, kepolisian, TNI, sekolah, perguruan tinggi, tokoh agama, tokoh adat, organisasi kepemudaan serta masyarakat untuk membangun gerakan pencegahan bersama yang masuk hingga tingkat desa.
“Kalau kita serius ingin memutus mata rantai kriminalitas, jangan hanya mengejar akibatnya. Kita harus masuk ke hulunya. Selamatkan generasi muda dari narkoba, berikan pendidikan, pembinaan, keterampilan dan ruang untuk bekerja serta berusaha,” tegasnya.
Menurut Zainal, pendekatan keamanan harus berjalan beriringan dengan pembangunan sosial dan ekonomi. Masyarakat membutuhkan rasa aman, tetapi generasi muda juga membutuhkan kesempatan untuk berkembang dan mempunyai masa depan.
“Bayangkan kalau BNN, pemerintah daerah, aparat keamanan, akademisi, tokoh masyarakat, tokoh agama dan lembaga pendidikan mempunyai program bersama yang berjalan sepanjang tahun. Saya yakin hasilnya jauh lebih besar daripada energi kita habis untuk saling menyalahkan,” ujarnya.
## Jangan Wariskan Stigma kepada Generasi Jabung
Zainal mengingatkan bahwa stigma terhadap suatu daerah memiliki dampak sosial yang panjang. Cap negatif tidak hanya dirasakan masyarakat hari ini, tetapi berpotensi diwariskan kepada generasi muda yang sebenarnya tidak mempunyai hubungan apa pun dengan tindak kejahatan.
“Anak-anak Jabung punya hak yang sama untuk sekolah, bekerja, berusaha dan membangun masa depan tanpa harus membawa beban stigma yang tidak pernah mereka lakukan. Jangan sampai hanya karena tempat kelahirannya, seseorang lebih dahulu dicurigai sebelum kita mengenal siapa dirinya,” katanya.
Karena itu, Zainal meminta seluruh pihak lebih berhati-hati dalam membangun narasi mengenai kriminalitas.
Ia menegaskan bahwa Ikam Jabung Sai tidak meminta persoalan kejahatan ditutupi. Sebaliknya, setiap tindak pidana harus dibuka dan diproses secara hukum. Namun penegakan hukum harus diarahkan kepada pelaku berdasarkan perbuatannya, bukan kepada identitas daerah asalnya.
“Kalau ada pelaku kejahatan dari Jabung, proses secara tegas. Kami tidak akan membela kejahatan. Tetapi kami juga akan bersuara ketika perbuatan individu kemudian digunakan untuk menghakimi seluruh masyarakat Jabung,” tegas Zainal.
## Kritik Harus Menjadi Jalan Menuju Solusi
Zainal mengajak seluruh masyarakat Jabung untuk menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi dan tidak merespons stigma dengan kemarahan.
Menurutnya, jawaban terbaik terhadap pandangan negatif adalah perubahan nyata yang dibangun bersama-sama.
“Kami berterima kasih kepada siapa pun yang mengingatkan dan mengkritik. Kami memilih melihat kritik itu sebagai bentuk kepedulian. Tetapi setelah kritik disampaikan, mari duduk bersama dan bicara tentang solusi,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Lampung, pemerintah kabupaten, aparat penegak hukum dan seluruh elemen masyarakat dapat membangun strategi jangka panjang untuk pencegahan kriminalitas, pemberantasan narkoba, pembinaan pemuda dan penguatan ekonomi masyarakat.
“Jabung tidak membutuhkan pembelaan dengan kata-kata semata. Jabung membutuhkan perubahan, pembinaan dan kesempatan. Mari kita buktikan bersama bahwa persoalan keamanan bisa diselesaikan tanpa merendahkan identitas suatu masyarakat.”
“Tindak tegas pelakunya, putus mata rantai kejahatannya, tetapi jangan hakimi daerah dan masyarakatnya. Jabung bukan begal. Jabung adalah rumah bagi ribuan masyarakat yang juga ingin hidup aman, bekerja, membesarkan anak-anak dan menjaga martabat daerahnya.” tutup Zainal Abie.
Sahrul/Red






