banner 728x250

Perpustakaan  di Tangerang kota Diduga Jadi Tempat  Lesehan  Pacaran: Kurang  Pengawasan Atau Abal – Abalnya Menajemen?

  • Bagikan
banner 450x1400

Perpustakaan  di Tangerang kota Diduga Jadi Tempat  Lesehan  Pacaran: Kurang  Pengawasan Atau Abal – Abalnya Menajemen?

Tangerang Kota,Fokusfakta,com —Sebuah perpustakaan umum di wilayah Tangerang Kota menjadi sorotan warga setelah muncul keluhan bahwa lokasi yang seharusnya digunakan untuk membaca, belajar, dan kegiatan literasi, justru dimanfaatkan sejumlah remaja—yang diduga pelajar—sebagai tempat lesehan untuk berpacaran. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan pengunjung lain, tetapi juga menodai fungsi utama perpustakaan sebagai ruang edukasi.

Example 300x600

Beberapa warga mengaku kerap melihat pasangan muda-mudi duduk berduaan di sudut ruangan, bahkan di area lantai yang semestinya digunakan untuk aktivitas membaca. Pemandangan tersebut menimbulkan kesan bahwa perpustakaan tidak memiliki pengawasan memadai dari pihak manajemen.

 

“Setiap saya datang, pasti ada sekelompok anak sekolah yang duduk lesehan sambil pacaran. Mereka tidak sedang membaca buku. Kadang berisik, kadang juga menunjukkan kedekatan yang tidak pantas di ruang publik,” ujar salah satu pengunjung yang enggan disebutkan namanya.

Pengunjung lain mempertanyakan kinerja pengelola perpustakaan. Menurut mereka, staf keamanan maupun petugas lantai seharusnya mampu mengawasi perilaku pengunjung agar tidak mengganggu kenyamanan umum.

“Perpustakaan itu tempat belajar, bukan taman rekreasi atau ruang privat. Kalau dibiarkan terus, fungsi perpustakaan bisa berubah dan membuat pengunjung yang benar-benar ingin belajar enggan datang,” ungkap seorang mahasiswa yang biasa memanfaatkan fasilitas tersebut.

Kurangnya patroli petugas, jumlah staf yang terbatas, dan lemahnya penegakan aturan diduga menjadi pemicu utama terjadinya pelanggaran perilaku di dalam area perpustakaan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, perpustakaan tersebut sebenarnya memiliki tata tertib yang jelas, termasuk larangan melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan kegiatan literasi. Namun di lapangan, pelaksanaannya dinilai tidak konsisten.

Pengunjung berharap manajemen lebih serius melakukan pengawasan, termasuk memberikan teguran kepada remaja yang melanggar aturan, serta menempatkan petugas di titik-titik rawan.

Warga berharap perpustakaan kembali dikembalikan fungsinya sebagai tempat yang nyaman untuk membaca, belajar, dan mencari referensi, bukan menjadi tempat pacaran atau nongkrong tidak jelas.

Beberapa pihak juga mendorong agar manajemen segera melakukan evaluasi internal, meningkatkan sistem pengawasan, dan menegaskan kembali aturan demi menjaga citra lembaga literasi tersebut.

Perpustakaan yang terawat dan berfungsi sebagaimana mestinya merupakan simbol kota yang peduli terhadap pendidikan dan budaya literasi. Tanpa penertiban, dikhawatirkan perpustakaan hanya menjadi nama tanpa makna.

 

(**/Red/Ap)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *